Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Iman Ibarat Sebuah Lampu


Untuk bisa melakukan amal seorang muslim membutuhkan iman. Karena imanlah yang menggerakkan amal. Tetapi sejauh mana tingkatan dan kualitas amal itu tergantung pada sejauh mana kekuatan iman yang bersemayam di hati.

Kekuatan iman ibarat cahaya lampu. Apabila bolalampu atau neon itu berdaya 5 atau 10 watt maka cahaya yang dihasilkan pun sedikit terang bahkan cenderung temaram. Dalam ruangan yang bercahaya lampu 5 atau 10 watt yang bisa kita lihat adalah benda-benda yang besar saja. Tetapi jika daya lampu yang kita pasang di ruangan itu 100 watt misalnya mak akan tampak benda-benda kecil bahkan jarum sekalipun.

Itulah tamsil kekuatan iman. jika iman kita rendah maka untuk melaksanakan amal itu sangatlah sulit. Untuk ibadah shalat 5 waktu saja butuh kekuatan iman apalagi untuk melaksanakan amal-amal kebaikan yang lain seperti shaum, zakat dan dakwah.

Pada kondisi iman yang lemah ini, seorang muslim masih sulit membedakan antara yang SUNNAH dan yang BID'AH, antara yang HALAL dan yang HARAM, antara yang HAQ dan yang BATHIL.

Berbeda dengan kondisi di atas, apabila iman seseorang itu kuat maka akan terasa ringan dan mudah melaksanakan amal-amal kebaikan. Bahkan dengan kekuatan iman yang tinggi akan mampu memainkan BASHIRAH (MATA HATI) sehingga dapat menghindari perkara-perkara yang SUBHAT (RAGU-RAGU) dan MUBADZIR (SIA-SIA).
Read More...

Indahnya Kasih Sayang


Seringkali kita menyalahkan anjuran berkasih sayang mungkin dalam hubungan kita dengan lawan jenis yang bukan mahram, yang mana pada hakikatnya berkasih sayang lah dalam batasan syar'i bukan dalam hawa nafsu yang menggelintirkan kita ke lubang neraka yang panasnya tak sanggup kita menerimanya, bertaubatlah kita sebelum diputusnya segala kenikmatan pada diri kita yang setiap saat bisa saja datang menjemput.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda: "Allah SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas kasihan dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (HR. Muslim)

Dari hadits ini jelaslahlah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju laut, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.

Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita menyayanginya dengan menyayangi kita dulu.

Jangan meremehkan makhluk ciptaan Allah, sebab tidaklah Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang Allah ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari Allah Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.

Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di qolbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.


Mahasuci Allah
Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang akan terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.

Betapa tidak?
Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tersebut tercabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di qolbunya.

Karenanya.. tidak bisa tidak! kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhatikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.

Ingatlah bahwa hidupnya hati hanya bisa dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya mamfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Insya Allah bagi yang telah tumbuh kasih sayang di qolbunya, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menahkahkannya di jalan Allah, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula mengajarkannya kepada orang lain.

Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan. Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, Insya Allah hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan berhati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya Allah.
Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melembutkan hati-hati kita untuk tetap memberikan kasih sayang sehingga terciptalah suasana yang harmonis dalam indahnya kasih sayang.
Read More...

Khusyuk dalam Shalat


Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat wara' dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Abu Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?"
Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?"
Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :

1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya')
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Tinggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun."
Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Saudaraku..
Sedikit dari kita yang sekian ini terlena (khusyuk) ketika menghadap Allah hingga dunia dan apa-apa yang kita cintai tak sedikit pun terlintas dalam benak kita ketika kita shalat melainkan hanya Allah yang Maha Segala-galanya yang ada, bahkan seolah-olah kita berada dalam hadapan Allah hingga sikap kita begitu khusuk dalam shalat dan hiruk pikuk dunia diabaikan.
Read More...

Penyimpangan Aqidah

Saudaraku..
Sebenarnya sebagian besar dari kita sudah mengetahui apa yang kita lakukan telah melenceng dari aqidah yang lurus akan tetapi demi mengikuti tren dan mungkin takut dikatakan tidak gaul hingga kita ikut-ikutan mengikuti suatu peradaban yang datangnya dari luar Islam (satu-satunya dien yang diridhai Allah)

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al-A’raf (7): 175-176).

Layaknya sekarang ini tahun baru Hijriyah (tahun Islam) telah berlalu sekitar 13 hari akan tetapi sedikit dari kita yang memanfaatkan momen tersebut untuk memuhasabah diri atas apa yang telah kita lakukan setahun yang lalu, malahan tahun itu layaknya tak datang sehingga tak jarang yang mengabaikan dengan kesibukan dunia.

Akan tetapi, ketika Tahun baru masehi (Tahun nasrani) datang banyak dari kita (umat islam) yang tak mau ketinggalan bahkan sampai berbalas selamat, bukankah itu hal yang sangat menyimpang dari aqidah umat Islam? Kenapa? Karena:

1. Datangnya tahun baru masehi adalah datangnya tahun baru nasrani jadi seandainya kita ikut andil dalam merayakanya sudah pasti kita telah mengikuti peradaban/ritual mereka dan Rasulullah SAW menyebut orang (umat islam) yang mengikuti peradaban ataupun ritual kaum lain maka orang itu termasuk kedalam golongan mereka, Rasulullah bersabda "Man tasyabbaha bikaumin fahua minhum" yang artinya "Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongannya" (HR. Ahmad)
Apakah kita mau digolongkan sebagai kaum lain(bukan umat isalam) yang notabene kita tau bahwa Allah SWT ridha hanya dengan satu agama yaitu "Islam"?

2. Datangnya tahun baru menandakan usia bumi dan alam semesta semakin tua sehingga sudah pasti sesuatu yang tidak kekal itu akan binasa kecuali Allah SWT, terus kenapa kita berucap selamat? yang sebenarnya lebih pantas adalah ucapan kesedihan karena tanda usia kita yang juga makin habis sehingga harus lebih berhati-hati jangan sampai hidup kita yang sebentar ini sia-sia yaitu dengan jalan memperbaikinya, BUKAN MERAYAKANNYA melainkan MEMUHASABAH kembali diri kita atas ketaatan kita pada Allah SWT hingga janji Allah SWT yaitu kampung halaman kita SURGA yang mana merupakan kehidupan yang kekal didalamnya bisa kita raih.

3. Dan masih banyak lagi kemudharatan atas merayakan tahun baru itu bagi umat islam diantaranya melalaikan kehidupannya dari kehidupan dunia yang sementara sehingga hanya menuruti hawa nafsu saja.

Saudaraku...
Marilah kita bersama-sama beristighfar dan memohon ampun pada Allah SWT yang mana mungkin dalam kehidupan yang sudah kita lewati telah banyak penyimpangan-penyimpangan dari aqidah Islam.

"Ya Allah.. Ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami atas perbuatan kami yang senantiasa dalam kelalaian dan kuatkanlah kami dalam menapaki jalan-Muyang lurus hingga keridhaan-Mu mengiringi sisa hidup kami"

Amin ya Allah.. Ya Rabbal 'alamin..

Kesempurnaan hanya milik Allah semata.
Read More...

Pemurah Yang Tak terpuji

Ibrahim ibnu Adham berkata, “Wahai orang yang berdusta, engkau kikir dengan harta dari kawan-kawanmu yang ada. Tapi pemurah selalu dengan akhiratmu dari musuh-musuhmu. Maka takkan untung dirimu dengan kikirmu itu. Dan tidak pula terpuji dengan pemurahmu itu.

Kata-kata bijak dari Ibrahim ibnu Adham ini berkaitan dengan perbuatan ghibah yang dilakukan seseorang. Apa itu ghibah? Mengenai pengertian ghibah, Rasulullah SAW. menjelaskannya dalam dialog berikut.

Nabi SAW. bertanya, “Tahukah kalian ghibah itu?”

“Allah dan rasul-Nya tentu lebih tahu,” jawab para sahabat

“Ghibah,” sabda Nabi, “Yaitu Engkau bicarakan kekurangan saudaramu sementara ia tidak suka itu.”

Nabi SAW. ditanya pula, “Jika yang dibicarakan benar adanya?”

Jawab Nabi, “Jika benar, itulah yang namanya ghibah. Jika tidak benar, kau telah membuat dusta.”


Orang yang suka ghibah disebut dengan pemurah. Namun, bukan pemurah yang terpuji. Karena pemurahnya tidak tepat sasaran. Mengapa disebut pemurah? Sebab ia akan membagi-bagi pahalanya kepada orang lain, yaitu kepada orang yang di dunia ia fitnah dan ghibah kepadanya. Jadi, ia membagikan pahalanya justru kepada musuh-musuhnya di dunia. Musuh yang di dunia ia benci dan ia lecehkan, di akhirat dibrikan sesuatu yang sangat berharga buat dirinya. Perbuatan pemurah semacam ini justru tidak baik karena pada akhirnya amalnya akan habis dan dimasukkan ke dalam neraka.

Sementara di dunia ia juga punya sifat yang kurang baik. Kepada teman-temannya ia tidak pemurah terhadap harta alias kikirnya bukan main. Ia tidak mau membagi hartanya kepada teman-temannya. Orang tersebut sungguh keterlaluan. Di dunia punya harta benda tidak mau berbagi dengan temannya sedang di akhirat pahala yang sungguh berharga dia bagikan kepada musuhnya. Orang seperti ini disebut pendusta oleh Ibrahim ibnu Adham.

Seharusnya, yang selayaknya terjadi adalah di dunia ia membagikan atau meminjamkan harta bendanya kepada teman-temannya. Masih wajar jika dia tidak mau memberikan harta benda kepada musuhnya. Di akhirat, karena kita sudah harus masing-masing mempertanggungjawabkan perbuatan kita, seharusnya harta yang paling berharga yaitu pahala jangan dibagi-bagikan.

Saudaraku . . . Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita mnjauhi perbuatan ghibah, fitnah dan perbuatan dzalim lainnya terhadap manusia terutama saudara kita.
Read More...

Manusia Memiliki Kelebihan dan Kekurangan

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang dilebihkan dalam hal ketampanan, ada yang dilebihkan dalam hal kekayaan, ada yang dilebihkan dalam hal pemikiran dan sebagainya.

Itu semua Allah berikan agar manusia itu dapat bersyukur kepada Allah dan dapat membantu manusia lainnya. Yang dilebihkan dengan kekayaan dapat membantu saudaranya yang kesusahan. Yang dilebihkan dengan pemikiran dapat memberikan masukan-masukan pada saudaranya.

Sedangkan Allah memberikan kekurangan pada manusia agar manusia dapat belajar bahwa di atasnya masih ada yang lebih sempurna. Allah Yang Maha Sempurna.

Jangan pernah menyalahkan Allah karena kekurangan kita. Sesungguhnya kekurangan pada diri manusia itu adalah kesempurnaan baginya. Tanpa kekurangan manusia takkan sempurna. Syukuri kelebihanmu dan belajarlah dari kekuranganmu.

Kepada teman dan saudaraku. Ku berharap kau dapat mensyukuri semua kelebihan yang diberikan Allah padamu. Karena itu adalah nikmat dari Allah yang belum tentu orang lain mendapatkannya. Tetap semangat jalani hidup walaupun ada kekurangan dalam dirimu. Keep smile :)
Read More...
 

This site does not store any files on its server. We only index and link to content provided by other sites. Thank you for visiting my site